An entrepreneur, career person, journalist, writer , counselor , arts and crafts lover, fashion, jewelry (artisan) designer, a self taught…

“I love people, I love friends, I love to encouraging people, I love for being active, creative, sharing, keep learning, and I love to see people happy ……”.
If You want to know more about Ross, about her vision and career & life experiences, kindly read this page further.
Thank You for your time and your visit.
Happy to be your colleague and be your friend.
*
AKHIRNYA, bisa juga Ross bertemu dengan Anda secara online….
-
Ross T Nugroho merupakan sosok solo-preneur yang berada dibalik web blog RossWorld.wordpress.com ini, beserta isi dari produk-produk nya.(lihat juga: About RossWorld yang merupakan Isi /Site Map dari web blog ini).
Apapun Anda, Jadilah Manusia Yang Baik. (Abraham Lincoln).
Ross, seorang otodidak, bukanlah pribadi yang mudah menyerah.
Untuk bisa bertemu dengan Anda secara online ini, dengan segala ke-‘gaptek’-kannya, dia harus ‘babak belur’, siang malam, jatuh bangun tanpa henti. Selama sepuluh tahun.
Untuk mewujutkan websitenya, www.rossatelier.com Ross harus terus berjuang selama 11 tahun! Dia tidak peduli berapa puluh kali telh dikibuli para yang mengaku bisa membuat website dan berapa banyak dananya yang terbang percuma.
-
Dia juga percaya, masalah “waktu” bukanlah urusan manusia semata. Ada Maha Penentu-nya. Dimana setiap jerih payah pada suatu keinginan luhur, masih memerlukan kesabaran dan ketabahan.
Jangan cemas dengan ketertundaan yang berada diluar kuasamu. Pasti ada hikmahnya. Gunakan waktu tersebut untuk mengoreksi dan menyempurnakannya. Dan tetaplah fokus pada tujuan Anda. (Ross T Nugroho ).
Ross yang telah mengunjungi sekitar 30 negara di dunia – termasuk Uni Sovyet – tidak pernah setengah hati dalam menekuni sesuatu.
Dia selalu menyintai pada apa yang dikerjakannya.
_
Sebenarnya Ross hanya menginginkan “About Me” singkat dan seadanya.
Tetapi beberapa orang meminta agar Ross sudi berbagi pengalaman hidup dan perjalanan karirnya yang panjang, yang sangat beragam dan penuh warna itu. Dengan harapan bisa berguna bagi masyarakat, para orang tua, dan khususnya Anda kaum muda, yang sedang penuh semangat menapak kehidupan dan menata karir, menyongsong masa depan yang gemilang, yang lebih bermanfaat dan bermakna.
Dianggap wajar bila profile-nya lebih padat dari yang umum. Mengingat dia bukanlah orang muda yang sedang meraba-raba masa depannya. Melainkan sebagai pribadi yang sudah menjalani pelbagai lika-liku perjalanan karir dan pengalaman hidup.
Bersama Anda, web blog ini berjalan sambil terus berupaya memperbaiki dan meningkatkannya dengan harapan bisa mendapatkan tampilan dan mekanisme kerja seperti yang diidamkannya .
Soal-soal teknis jalannya internet dan komputerisasi, Ross ditolong khususnya oleh putranya, Har , seorang arsitek yang juga penggemar uang kuno dan perangko.
Putranya inilah yang mengenalkan Ross – yang sangat “gaptek” ini – dengan komputer dan dunia cyber. Dia merasa sangat beruntung telah ‘dipaksa’ oleh Har untuk meninggalkan mesin ketik manualnya, dan beralih ke komputer, serta ikut menyelam kedunia cyber ini.
-
Kunjungi juga web dan blog Ross yang lain :
http://chantikjewels.wordpress.com
http: //rossatelier.wordpress.com
http://jobnkarir.wordpress.com
-
Walaupun telah sepuluh tahun jatuh bangun dan kehilangan tujuh domain name , dia tetap fokus ingin memiliki kegiatan online.
Dan akhirnya, Ross bisa bertemu dengan Anda secara online .
Tadinya Ross hanya mau membuat website online store saja, khusus untuk menampilkan perhiasan eksklusif (one of a kind jewelry) karya -karyanya.
(Semua foto pada karya-karya yang ada dalam store online-nya,dibuat oleh Ross sendiri).
-
Tetapi justru anak-anaknya yang mendorong agar sang ibu juga membuat blog.
“Pengalaman dan ide mama kan banyak. Sayang kalau tidak dibagikan dengan orang lain,” kata mereka. Jadi bukan untuk menggurui, tetapi berbagi pengalaman.
-
Ross tidak mempunyai pengalaman melamar pekerjaan.
Sejak awal memasuki dunia kerja, semasa SMA (sekarang SMU), dia selalu dilamar dan direkrut oleh pekerjaan. Bahkan beberapa kesempatan besar datang padanya tanpa dia yang mencarinya.
Namun demikian semua itu bukanlah suatu kebetulan apalagi sekadar kemujuran.
Melainkan sebagai buah dari kerja keras dan intergritas yang tinggi sepanjang hidupnya. Sehingga sudah melembaga dalam dirinya.
Kreatif, jujur, disiplin, amanah, dan teguh pada komitmen, serta menyadari apa manfaatnya dan untuk apa melakukannya.
Kerja keras, jujur, disiplin, tanggung jawab pada lingkungan, dan enjoy.
-
“Jangan menghitung-hitung imbalannya. Jangan ingin memetik, bila belum menanam. Karena bukan pada masalah keberhasilannya, tetapi pada manfaatnya,” ujarnya.
Dia percaya, tidak ada perbuatan baik yang sia-sia.
Semua kebaikan adalah ‘investasi’ kehidupan.
Bukanlah bertujuan menjadi orang yang berhasil, melainkan menjadi orang yang berguna. (Albert Einstein).
Perjalanan
Radio dan Televisi
“Ingin jadi orang terkenal?”, dia tertawa geli bila mengingat ketika pada usian 20- an tahun dia menolak tawaran pihak TVRI untuk menjadikannya sebagai host suatu acara talk show baru dan bergengsi yang sedang berjalan.
Produser dan pengarah acaranya sampai datang menjemput dirumahnya, tapi wanita muda yang saat itu belum lama menjadi penduduk Jakarta, menolak dengan alasan , “Masih ada yang lebih pantas dari saya”.
“ Hidup ini adalah pilihan,” kata Ross yang tidak bercita-cita menjadi orang yang wajahnya dikenal dimana-mana.
*
Orang terkenal tidak berarti adalah orang yang baik. Orang yang baik tidaklah selalu terkenal wajahnya.(Ross TN).
*
Pada usia 16 tahun, Ross mendapat tawaran langsung dari kepala studio RRI Menado, Sulawesi Utara, untuk menjadi penyiar dan pembaca berita. Kemudian ditambah lagi sebagai pemain drama sandiwara radio yang selalu kebagian peran utama, dan menjadi MC pada setiap acara Lomba Bintang Radio se Sulawesi Utara, serta menjadi pengisi suara untuk membangkitkan semangat para pejuang di perbatasan Irian Barat maupun Malaysia.
Rupanya, suara si juara dua kali Lomba Deklamasi antar siswa SMA se Sulawesi Utara yang tengah mengisi acara “Sajak dan pembahasan” (bersama guru bahasa Indonesia sekolahnya) di RRI itu, dinilai oleh sang kepala studionya sebagai pemilik suara yang lebih ‘besar’ dari usia dan perawakan tubuhnya, dengan pengucapan yang jernih.
Karena bersekolahnya sore hari, maka setiap selesai waktu subuh yang dingin, si murid SMA ini sudah rapi dan duduk standby sendirian di ruang tamu yang sepi, menunggu jemputan mobil jip tua RRI untuk membuka siaran pagi hari.
Nanti setelah kuliah, barulah jam menyiarnya bervariasi.
”Honor?” Ross tertawa sambil menggeleng. Rupanya si remaja tidak tega melihat kondisi studio RRI dan para PNS nya. Justru, dia yang sering meminjamkan piringan hitam koleksi terbaru ayahnya untuk diputar di RRI yang sangat miskin koleksi diskotiknya.
Ketika dia berkunjung ke Menado, setelah hijrah ke Jakarta, dikala teman-teman lamanya masih bertugas, dia masih sempatkan diri mengisi pelbagai acara siaran RRI. Dan seperti biasanya, dia tidak mengharapkan honor.
*
Uang dan kedudukan bukanlah tujuan hidup. Bukan pula ukuran martabat dan harga diri. Tetapi adalah alat, sarana dan amanah untuk berbuat kebaikan dan manfaat bagi sesama manusia dan alam. (RossT Nugroho).
*
Tidak semua kegiatannya dilakukan karena demi uang semata. Menurutnya, ada saatnya kegiatan kerja kita adalah untuk menghasilkan uang, tapi tidak selalu.
Ada saatnya dimana waktu, tenaga, moril, material dan unsur uang yang dilibatkan, hanya semata-mata ditujukan untuk disedekahkan. Yaitu ketika semua itu difungsikan sebagai alat penolong untuk mewujutkan suatu tujuan luhur.
Bila semua harus terus-terusan dibisniskan, lantas kapan Anda bersedekah diluar ritual hari keagamaan ? Kapan ketulusan hati Anda difungsikan?
Menurutnya, “Sungguh menyedihkan bagi orang yang hanya mau melakukan sesuatu hanya apabila ada imbalan uang , hanya bila dibayar.
Pasti mereka mempunyai jiwa yang gelisah dan sulit berdamai dengan dirinya”.
*
Bila uang sudah menjadi tujuan hidup, maka orang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya itu. (Ross TN kepada anaknya)
*
Dia tidak menyangkal kalau uang memang sangat perlu dan sangat penting. Akan tetapi, uang tidak selalu bisa membeli. Uang bukanlah segala-galanya.
“Jadilah manusia yang tidak bisa dinilai dan yang tidak terukurkan dengan uang. Jadilah manusia yang tak terbelikan dengan uang berapapun”. Demikian Ross.
*
Tak ada uang yang bisa membeli harga diri orang yang memiliki kehormatan diri dan bermartabat. (DR. Suparman Sumahamijaya , bapak “ Wiraswasta”)
*
Tumbuh Ditengah Perbedaan dan Dinamika
*
Dia lahir di Menado dari dua keluarga besar yang berbeda suku, adat, tradisi dan agama, yang hidup rukun damai sampai sekarang. Seperti harmonisnya masyarakat umumnya di Sulawesi Utara.
Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup dalam perbedaan suku, tradisi dan agama. Ayahnya berdarah Jogya/Jawa Tengah, datang dari keluarga pergerakan politik (Islam) yang pada masa penjajahan ‘dibuang’ ke Menado.
Kakeknya, dari pihak ibunya, yang asli Menado, Minahasa, Sulawesi Utara, adalah kepala balak/suku merangkap sebagai Lurah di Menado yang eksis sekitar tiga dekade pada zaman kolonial.
*
Ibu dan ayahnya adalah entrepereneur sejati. Orangtua yang bertanggung jawab, disiplin, dan penuh kasih sayang
Sejak kecil dia sudah dijejali ayahnya dengan pelbagai buku dan bacaan. Dari bacaan pengetahuan, politik, sastra, sampai agama.
Ross telah belajar membaca sejak belum bersekolah. Semua majalah terkemuka terbitan ibukota dan Surabaya dilanggani ayahnya. Ayahnya juga rajin mencermati daftar buku anak-anak yang diterbitkan di Jakarta untuk dipesannya.
Semua jenis bacaan sudah harus dibaca orangtuanya terlebih dahulu barulah dia boleh membacanya.
Ibu dan ayahnya sangat gemar membaca. Keluarga kecil ini mempunyai waktu khusus untuk membaca bersama.
Ayahnya adalah mitra berdiskusi Ross berjam-jam, sejak dia kecil, sampai jelang akhir hayat beliau. Sang ayah adalah seorang otodidak yang luas wawasannya, yang adalah juga seorang seniman dan bintang radio di masa mudanya, yang menjadi imam mesjid di hari tuanya.
Ross menyukai kerajinan tangan serta pelbagai bidang seni dan kesenian.
Belum lama setelah ibunya berpulang, oleh ayahnya Ross dibelikan sebuah piano antik buatan Austria. Ross pernah mempelajari bermain piano klasik. Dia juga bermain tennis semasa remajanya.
Pelajaran agama diberikan langsung oleh ayahnya sejak dia kecil. Di waktu pagi dia sekolah di Susteran yang sebagian masih berbahasa Belanda dengan guru-guru orang Eropa. Sorenya belajar di madrasah.
Begitu banyak teladan yang dia terima dari kedua orangtuanya yang wiraswasta tangguh itu. Semua itu melekat erat dalam sanubari, mind set dan prilaku Ross. Demikian dermawannya sang ibu, sehingga rumah mereka kala itu bagaikan rumah penampungan silih berganti para yatim piatu dan janda, maupun yang tidak mampu. Sepeninggal ibunya, ayahnya masih membiayai sekolah anak- anak yang tidak mampu sampai bekerja, sampai sarjana.
Dan sikap orangtuanya itu menurun padanya.
*
Menjadi oranggtua adalah jabatan seumur hidup dan status sampai akhirat yang tak bisa dilengserkan, tidak bisa dialih tugaskan dan tidak bisa dihindari tanggung jawabnya.
Menjadi orangtua adalah amanah Illahi sampai akhirat. (Ross T Nugroho)
*
Menikmati Kegiatan
Dia sangat bersyukur mendapat orangtua yang sangat disiplin, yang terkadang agak keras. Dia dibesarkan dengan nasehat dan teladan.
Ibunya yang mualaf, berpulang ketika si sulung ini baru lepas SD.
Sejak menjadi piatu (bersama dua adiknya yang masih kecil) semua urusan dirinya dia urus sendiri walaupun pembantu selalu tersedia.
Waktu Ross terisi padat secara bermanfaat tetapi dia tidak kehilangan masa kecil dan remajanya. Sebagai anak, dia tumbuh secara sehat, wajar dan bahagia.Terutama dikala ibunya masih hidup.
Semasa sekolah dan kuliahnya, dia termasuk menonjol dalam pelajaran maupun kegiatan-kegiatan ekstra sekolah.
Sejak kelas 5 SD dia sudah bersahabat pena dengan teman sebaya maupun remaja di pulau Jawa. Pada usia sepuluh tahun itulah tulisannya sudah dimuat dalam ruang anak-anak di majalah Liberal (Surabaya) .
Sewaktu kelas 6 SD dia sudah mewakili sekolahnya untuk berpidato antar sekolah. Dia selalu menjadi pemimpin olahraga masal rutin sekolah, memimpin penaikan bendera dan pembaca janji siswa di sekolah maupun pimpin baris berbaris antar sekolah. Juga masuk dalam paduan suara maupun penyanyi solo dan pemain utama teater di sekolah dan kampus.
Pernah sebagai sekretaris koperasi SMA (Kopsman) sekolahnya . Selama SMA selalu dipilih sebagai ketua kelas.
Semasa mahasiswa, dia aktif dalam Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia dan duduk dalam kepengurusan Dewan Mahasiswa Unsrat (Universitas Sam Ratulagi).
Dia dikenalkan dengan dunia memasak dan mesin jahit oleh neneknya ketika masih berusia delapan tahun. Usia sepuluh tahun dia belajar membuat baju pada guru menjahit yang adalah ibu dari teman sekelasnya. Kemudian dia lanjutkan lagi disela-sela waktu kuliahnya. Kemahiran membuat pola diperdalam di Jakarta.
Dia memang senang dengan fashion , seni dan kerajinan tangan.
Pelbagai macam les keterampilan wanita sudah dilakukannya semasa masih anak-anak dan remaja. Semua atas kemauannya sendiri. Orangtuanya memfasilitasinya.
Orangtuanya tak sempat ‘menyuruh-nyuruh’ karena dia selalu sudah berinisiatif sendiri. Termasuk mengurus rumah mereka setelah ibunya yang sangat rajin dan pembersih itu, berpulang.
*
Biasakanlah ototmu, otakmu serta empatimu bekerja sejak usia dini. Bila Anda harus menunggu setelah dewasa, semua sudah terlambat. Anda sudah terlanjur malas, berotak bebal, masa bodo dan tumpulnya hati nurani Anda. (Ross T Nugroho)
*
Tidak Terbuang
*
Diawal usia 20an tahun Ross sudah menjalankan usaha butik kecil-kecilan miliknya di kota kelahirannya, dengan menyerap beberapa tenaga kerja penjahit dan penyulam, dimana dia sendiri merangkap sebagai juru pola/potong dan designer.
Kuliahnya beberapa tahun di fakultas kedokteran (lalu jurusan ekonomi) di Universitas Sam Ratulangi, tidak bisa diselesaikanya karena merasa bukan itulah tempatnya. Karena sesungguhnya dia memiliki mimpinya sendiri.
Begitu taatnya dia sebagai anak, dia berusaha sangat keras untuk mengikuti permintaan ayahnya untuk menjadi dokter ( lalu ekonom).
Dia paham mengapa “menjadi dokter” menjadi permintaan ayahnya. Bukan karena untuk gagah-gagahan tetapi sepertinya ada hubungan dengan “kisah” ibunya yang meninggal ditengah situasi pergolakan daerah yang ketiadaan dokter.
Dia bisa saja ‘menggelegar’ diluar. Tetapi bila berhadapan dengan orangtuanya, dia adalah anak yang tanpa ‘nyali’. Dia tak ada nyali untuk membantah apapun, walaupun dia merasa (sangat) benar. Biarlah dia menangis sendiri dan membuktikan kebenarannya dengan tindakan serta hasil kerja dan prilakunya.
Tapi dia sering dibuat sedih oleh ayahnya yang sering memujinya di depan orang dan adik-adiknya. Sesungguhnya dia tidak menyukai cara itu.
*
Kesempatan untuk ‘berbakti ’ secara tulus dan mulia dalam hidup ini tidak selalu hadir sepanjang hayat kita. Mungkin hanya sekali seumur hidup kita. (Ross TN kepada anaknya)
*
Lima tahun di universitas bagaikan tersia-sia begitu saja. Tapi dia tidak pernah menyesal telah ‘membuang’ banyak waktu demi untuk menunjukkan baktinya pada ayahnya yang sangat dihormati dan dikasihinya itu.
Itulah bagian dari upayanya sebagai anak yang berusaha keras menunjukkan baktinya kepada ayahnya. (Adiknya dia ‘bujuk’ untuk mewujutkan impian ayahnya. Adiknya menjadi dokter teladan).
*
Kasih sayang, rasa hormat dan kesantunanmu yang tulus ikhlas pada orangtuamu, dipastikan akan membawa karunia dan berkah Tuhan dalam hidupmu. Dengan baktimu kepada orangtuamu, Tuhan akan selalu menjaga kehormatanmu.(Ross TN kepada anaknya)
*
Jurnalistik
*
Sempat menjadi modiste pada awal hidupnya di Jakarta. Kemudian sebagai MC dalam bahasa Indonesia dan Inggris .
Bagaikan dibawa oleh garis hidup, dunia jurnalistik diawalinya sebagai wartawan dan penulis lepas.
Tanpa pernah mengajukan lamaran kerja, Ross terjun ke dunia jurnalistik.
Dibidang ini Ross seakan menemukan hidupnya.
Sejak awal tahun l970-an Ross aktif di dunia jurnalistik, tanpa terasa sampai sekitar 20 tahun dia berkutat di dunia ini. Dimana belasan tahun dia dipercayakan sebagai Managing Editor sambil tetap aktif menulis, memotret dan meliput di lapangan.
Setelah menjadi penulis lepas, Ross diminta untuk bergabung dengan sebuah majalah sebagai staf redaksi. Tetapi baru beberapa saat, majalahnya dibreidel.
Ross langsung direkrut suatu grup majalah.
Walaupun dia mengawali dengan koran, tetapi ternyata Ross lebih menyukai majalah, karena dia bisa lebih leluasa mengaktualisasikan dan mengekspresikan diri.
*
Sampai akhirnya tiba suatu hari datang kerumahnya utusan dari sebuah perusahaan penerbitan dan majalah yang terbesar dimasa itu, Selecta Group, pimpinan Sjamsuddn Lubis (Pak Sam) seorang entrepreneur sejati.
Tak dinyana, utusan itu datang untuk mendaulat Ross agar mau bergabung dengan group raja majalah tersebut, sebagai Redaktur.
Belum lama disana, Ross dipercayakan Pak Sam untuk menjadi Managing Editor.
(Kemudian hari dia sempat ditugaskan menangani dua majalah. Juga sebagai Manajer Iklan dari grup permajalahan terbesar masa itu).
Ketika ditawarkan menjadi Managing Editor ( Redaktur Pelaksana) yang bertanggung jawab penuh pada isi majalah (“cover to cover”), Ross merasa tidak bisa menerimanya. “Saya pendatang baru. Disini banyak seniornya. Selama ini saya orang lapangan , yang menulis dan memotret. Tapi menjadi manajernya?”
Pak Sam, sang pemilik yang juga Pemimpin Redaksi seakan tidak peduli. Beliau justru begitu yakin bahwa Ross bisa menanganinya. Demikianlah, SK disodorkan ke Ross pada saat sang boss sedang keluar kota.
*
Sejuta orang bisa saja menekan, memendam dan menyembunyikan Anda. Tetapi bila tiba saatnya, Tuhan yang akan mengangkat Anda ke permukaan. (Ross T Nugroho kepada anaknya).
*
Ross akhirnya maklum bahwa, apabila kita dipercayakan oleh pimpinan apalagi pemilik, tanpa ada unsur KKN (kroni, kolusi dan nepotisme) atau alasan yang tidak sehat lainnya, berarti mereka sudah mempertimbangkannya dari pelbagai segi secara arif. Karena adalah amat berbahaya dan sangat dungu bila mempertaruhkan nyawa suatu perusahaan (besar) pada orang yang tidak tepat.
Demikian pula, orang yang dipercayakan itu jangan menjadi sombong yang akan membuat dia tidak akan didukung oleh lingkungan kerjanya.
”Kepercayaan orang sangatlah penting bagi kita. Itu akan menjadi semacam sugesti yang akan memotivasi gairah, menggali potensi dan kemampuan kita untuk menjalankan amanah dan kepercayaan orang kepada kita“.
Menurutnya, “ Membalas kebaikan dan kepercayaan orang adalah dengan dedikasi kita yang tulus. Bekerja secara jujur, seoptimal dan sekeras mungkin. Berupaya untuk mengangkat citra perusahaan serta bisa membawa manfaat dan keuntungan finansial bagi perusahaan, agar bisa meneruskan bisnisnya dalam menafkahi begitu banyak karyawan didalamnya. Dengan demikian kita sekaligus juga membantunya didepan karyawan bahwa mereka tidak salah memilih kita. Jangan sampai kita mempermalukan mereka, karena ternyata mereka telah salah memilih orang”.
”Setiap kesempatan yang diberikan kepada kita harus kita syukuri,” ujarnya. “Tanpa kesempatan, kita tidak memiliki sarana untuk mengaktualisasikan diri dan mengeksplor potensi kita. Oleh karena itu bekerjalah sekeras mungkin ,secara jujur dan tulus . Itulah cara mensyukuri kepercayaan dan kesempatan yang dibukakan kepada kita.” .
Jangan dulu memikirkan berapa gaji yang akan Anda peroleh.
Melainkan beri…. beri… berilah terlebih dahulu. Barulah Anda pantas untuk menerima.
Tanam …tanam… tanamlah dulu, barulah Anda akan memetik.
*
Mereka yang memberi lebih banyak dari apa yang diterimanya, lambat atau cepat akan menerima lebih banyak dari apa yang pernah diberikannya.
(Intisari Kewiraswastaan).
*
Dia sendiri, selama pengalaman bekerjanya dengan orang lain, seumur hidupnya dia tak pernah menentukan apalagi mempersoalkan berapa gaji atau honor yang diinginkannya. Karena dia percaya tidak ada perusahaan yang mau membiarkan tenaga terbaiknya , yang menguntungkan perusahaan, untuk pergi meninggalkan mereka. Soal besarannya, tinggal tergantung pada kemampuan finansial perusahaannya.
Dan ternyata pengabdiannya dapat dikatakan tidak mengecewakan.
Apabila ada yang merasa dikecewakan, dia boleh memperjuangkannya atau keluar dari situ. Jadi tidak usah ribut-ribut , apalagi membuat onar.
Satu hal yang juga penting baginya dalam bekerja adalah, adanya kebahagiaan hatinya ketika melakukan pekerjaan dan tugasnya. (Dia pernah dirawat berbulan di rumah sakit karena keletihan bekerja).
Begitu bergairahnya dan cintanya pada pekerjaannya sampai dia seakan-akan melupakan untuk ‘menuntut’ macam-macam.
Menurutnya, bukan soal banyak atau sedikit, melainkan kehalalannya, keikhlasan dari yang memberikannya, dan berkahnya rizki yang kita peroleh.
*
Berapapun gaji dan pendapatan kita, kalau halal dan berkah, pasti akan mencukupi dan mampu membahagiakan kita. Tetapi bila penghasilan itu tidak halal dan tidak ada berkahnya, maka pendapatan berapapun besarnya pasti tak akan mencukupi dan tak akan mampu membahagiakan kita. (Ross T Nugroho kepada anaknya)
*
Dalam dunia jurnalistik dia menulis tentang ekonomi, bisnis, industri kecil, pengusaha besar dan kecil, mewawancarai tokoh-tokoh, memperkenalkan apa itu Kewiraswastaan, laporan jurnalistik dari pelbagai manca negara, meliput ketidak adilan sosial di daerah, kasus-kasus hukum, serta masalah-masalah korupsi (orde baru), menjadi kolumnis tetap, maupun melalukan liputan investigative report yang sangat riskan tapi paling disukainya.
Baginya, Selecta Group merupakan “universitas” yang telah menggodok kemampuan dan potensi dirinya .
Pak Sam, sang big boss, adalah mantan wartawan tiga zaman, dan penulis buku novel, yang sangat disegani kalangan pers (senior) karena sikapnya yang kokoh dalam berprinsip. Beliau juga dikenal sebagai orang yang dermawan dan sangat ramah dengan karyawannya.
*
Dia merasa beruntung pernah bekerja ( lama) dengan orang lain terlebih dahulu. Karena bisa melihat mana pimpinan yang baik dan yang tidak. Juga mengalami rasanya sebagai bawahan dan pengalaman menghadapi persaingan, serta intrik intern maupun ekstern. Termasuk intrik-intrik yang tidak sehat dan menyakitkan.
Bekerja dengan orang lain juga merupakan penggodogan mental , mengenali lebih banyak sifat dan kelakuan manusia serta memiliki jaringan kerja.
Disitu dia juga mendapat pengalaman tentang manajemen, pengelolaan suatu usaha dan pekerjaan, dengan pelbagai dinamika dan segala resikonya. Dan bahwa memiliki usaha sendiri berarti siaga menghadapi pelbagai resiko.
Tapi satu hal yang paling mengesankan hatinya ketika bekerja dengan usaha orang lain adalah bahwa, bila kita memiliki usaha sendiri, bukan saja kita yang menjadi majikannya dan menjalankan konsep kita sendiri dengan segala resikonya.
Tetapi terlebih lagi, kita bisa memberi nafkah kepada orang banyak.
*
ASEAN
*
Dia juga mempunyai pelbagai kegiatan diluar jadwal kerjanya.
Dia senang mempunyai banyak teman, berdiskusi dan berorganisasi. Namun dia tidak suka hidup hura-hura.
Hidup ini harus dijalani dengan tulus dan senang hati. Tetapi tidak dengan cara memubazirkan waktu dan menyia-nyiakan makna hidup.
Harus ada keseriusan menjalani hidup ini sebagai refleksi kita menghargai nilai dan makna dari kehidupan ini .
Hubungan sosial pribadinya cukup luas dan terjaga baik. Maka demikianlah, walaupun sudah lama tidak bertemu, masyarakat permusikan mendaulat dia menjadi juri pada festival lagu pop tingkat nasional. Disusul sebagai Sekretaris Jenderal dalam OC (organizing comitee) dari ASEAN Pop Song Festival.
*
Atas inisiatif dan prakarsa Ross, bersama-sama musisi senior Sadikin Zuchra, dan Rinto Harahap, didirikanlah Koperasi Artis Musik Indonesia (Kopami). Rinto sebagai Ketua Umum, Sadikin Ketua, dan Ross sebagai Sekretaris Jenderal.
Nama-nama lain dari artis pengurus yang pernah diangkat sumpah oleh Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sebagai pengurus Kopami waktu itu terdapat pula nama Marini (bendahara), Idris Sardi, Ariyanto, Edwin Harahap, Barce van Houten, Mamiek Slamet,Enteng Tanamal, dan sederetan nama seniman musik papan atas dimasa itu.
Tetapi pertikaian intern antara sesama seniman besar, antara Eddy Sud (non pendiri) dan kelompok Enteng Tanamal, yang turut melibatkan nama organisasi artis rekaman, telah memendekkan usia dari koperasi yang bertujuan mengangkat perekonomian artis penyanyi papan bawah, pendatang baru, dan mereka yang sedang tenggelam.
*
Selain mempunyai pengalaman menjadi pembicara sarasehan / seminar dan moderator, dia juga mempunyai pengalaman menjadi PR. Antara lain sebagai PR untuk pementasan “Hamlet” oleh Satu Merah Panggung, yang disutradarai Ratna Sarumpaet, yang dipentaskan dengan sukses di Gedung Kesenian Jakarta.
*
Seni menghaluskan budi.
*
Rencana Hidup
*
”Tanpa bermaksud mendahului Tuhan, saya memang telah merencanakan hidup saya”, kata Ross.
Menurutnya, kalau yang sudah direncanakan saja masih berantakan, apalagi yang asal-asalan. Seolah-olah menyerah begitu saja pada alam, agar dikemudian hari akan menjadikan alam sebagai kambing hitam dari semua kegagalan hidup.
“Saya telah menetapkan untuk tidak menjadi karyawan seumur hidup. Saya harus berani mengambil resiko walaupun hilangnya pelbagai kenyamanan dan fasilitas berkelas yang telah saya peroleh”.
*
Hidup ini hanya untuk pemberani. Berani mengambil resiko . Berani gagal dan berani untuk berhasil. Berani untuk mandiri dan berani menjadi majikan.(Ross TN kepada anaknya)
*
Ketika memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai orang kantoran, dan ingin berwiraswasta, tidaklah mudah.
Setiap kali dia mengajukan pengunduran diri, tidak diizinkan oleh sang pemilik perusahaan. Tapi karena kata sudah diucapkan, maka dia tetap mengundurkan diri.
Dia dilepaskan dengan terpaksa, karena alasannya ingin mempunyai anak lagi.
”Tetapi saya juga bertekad untuk tidak pernah berniat menyaingi usaha sejenis dari orang yang pernah membesarkan saya. Kalaupun terpaksa, karena ternyata hanya bisa) berusaha dalam bidang sejenis, sebaiknya menjadi mitranya, dan bukannya menyaingi apalagi berniat mematikan usaha mantan boss. Kalau kita tidak mengganggunya, kita justru akan dibanggakan, bahkan didoakannya.”
*
Jangan menggigit jari tangan orang yang memberi kita makan.
*
Ross merasa beruntung karena dengan beragamnya bidang yang pernah dipelajari dan yang selalu dikerjakannya secara serius, membuat dia tidak buntu dalam satu bidang saja. Sehingga tidak perlu ‘mencuri ’ atau mengacaukan piring makan orang- orang yang pernah membesarkannya.
Dengan memiliki banyak pengalaman hidup, mengenali dengan baik berbagai kegiatan, beragam lingkungan kerja dan pergaulan, serta terus menerus belajar, membuat Ross memiliki banyak exit door.
*
Bila kau selalu berjalan dengan Tuhan, kau pasti akan selamat (RossTN kepada anaknya)
*
Wiraswasta
*
Setelah berhenti dari pekerjaan kantoran yang mengikat, Ross sempat menjadi kolumnis rubrik tetap dan penulis lepas di beberapa koran terkemuka di Indonesia. Kemudian merintis usaha bisnisnya sendiri.
Diawali dengan suatu pekerjaan yang belum pernah dia lakukan. Yaitu menawarkan barang-barang wanita dari rumah ke rumah teman. Mereka menertawakannya. Tapi mereka mau membeli.
Ada yang mengira dia pura-pura miskin, ada yang mengira sedang mengadakan riset untuk penulisan. Padahal dia sedang serius mencari nafkah yang baru.
Dalam keadaan hamil, bersama suaminya (yang tetap berkantor), dia masih bolak balik belajar pada DR Suparman Sumahamijaya MA. MSc. Ak. sang penggagas ‘Kewiraswastaan’ dan pencipta kata ‘Wiraswasta’ itu.
Dia percaya bahwa konsep kewiraswastaan yang dia pelajari langsung dari DR. Suparman sejak tahun l970an itu, bisa dijalankan.
Sebagai orang yang pernah menyebar luaskan melalui media cetak tentang apa itu konsep Kewiraswastaan tersebut (dan pernah beberapa kali tampil bersama DR Suparman di TVRI dalam program acara Bina Wiraswasta),maka dia merasa cukup mengenal konsep pembentukan manusia Wiraswasta.
Manusia berjiwa patriot, pionir, pekerja keras, bermental unggul dan hidup bermartabat itu bernama seorang :” Wiraswasta”.
(lihat juga PAKET “Entrepteneur/Wiraswasta”)
Secara teori pula dia belajar bahwa konsep tersebut bertujuan untuk mengubah seorang berjiwa ‘kuli’ untuk menjadi majikan, mengubah seorang buruh atau pekerja kantoran menjadi seorang entrepreneur.
Dengan hasratnya menjadi seorang entrepreneur, seorang wiraswasta, maka berarti dia tidak hanya ingin menjadi penganjur belaka. Tetapi juga ingin menjadi pelaku dari apa yang dianjurkannya itu.
*
Godaan
*
Baru beberapa bulan melahirkan putra bungsunya, sebuah grup majalah besar lainnya langsung merekrut Ross. Grup yang sangat terkenal dengan majalah wanitanya, baru saja memiliki majalah berita.
Dia kembali ke habitatnya.
*
Ditengah pelbagai kesibukannya sebagai wartawan yang kala itu sering meliput ke daerah, tiba-tiba muncullah putri kandung dari boss Selecta Group ke rumahnya.
Apa pasal? Ross diminta kembali bergabung dengan mereka. Hatinya luluh.
Dia bergabung lagi dengan Selecta Group dan Pak Sam.
Namun, beberapa tahun kemudian, walaupun masih juga tidak diizinkan, lagi-lagi Ross minta pamitan. ”Ada saja godaan untuk tidak bisa mandiri. Terutama bila datangnya dari perusahaan yang telah lama mempekerjakan Anda,” ujarnya.
Tapi tekad untuk mandiri dengan segala konsekuensinya sudah bulat.
Dia meninggalkan semua penghasilan dan fasilitas yang berkelas itu.
*
Berkarir bisa menjadi ‘candu’. Mengejar karir diibaratkan bagaikan berlomba tanpa garis finish. Oleh karena itu manusia harus mewaspadai batasannya. (Ross T Nugroho kepada anaknya)
*
Layu Sebelum Berkembang
*
Demikianlah. Dengan penghasilan baru yang tidak sebaik sebelumnya, Ross menjadi penulis dan managing editor lepas (beberapa) majalah, sambil mulai menata pembentukan perusahaan sendiri bersama suaminya.
Atas usul seorang teman, diawali dengan usaha supplier ATK (alat tulis kantor) yang sebenarnya kurang dia sukai. Baginya, mungkin saja usaha semacam itu menghasilkan uang, tapi dia merasa bukan bidang yang kreatif. Dan begitulah.
Baru saja mulai, usaha barang- barang ATK itu hancur sebelum berkembang, karena langsung bertemu dengan penipu.
Kemudian dia mencoba dengan suatu bisnis yang belum banyak dikerjakan orang. Yaitu menyediakan keperluan belanja rumahtangga dengn cara home service. Langganan menilpon kebutuhannya sesuai daftar yang ada, lalu pihak Ross mengantarkannya. Tetapi usaha itu tidak bertahan lama setelah ada orang yang ingin ikut bergabung, tetapi justru merusak.
Tapi kerugian – kerugian itu tidak mampu memupuskan semangatnya.
”Selama nama baik kita tetap terjaga, semangat tetap membara, mau terus belajar, rumah tangga aman-aman saja, dan kondisi tubuh kita sehat walafiat maka, Insya Allah selalu ada jalan keluar.”
*
Gagal dalam beberapa bidang, bukan berarti gagal dalam semua bidang. (RossTN).
*
Tetapi kegagalan yang beruntun itu bukan berarti dia terjun bebas.
Ibarat kata pepatah, “Jangan menaruhkan seluruh telurmu dalam satu keranjang yang sama”.
Dia masih menulis secara lepas, dan atas permintaan salah satu pemiliknya, Ross menjadi kolumnis tetap pada suatu surat kabar.
*
Pengusaha
*
Semasa aktif di kewartawanan, Ross sering diundang ikut dalam rombongan direksi BNI 46 bersama para wartawan senior media massa, berkeliling daerah mengunjungi pelbagai usaha dan sentra industri kecil di pelbagai daerah di Indonesia.
Pernah mereka kembali lagi bersama rombongan pers dan direksi BNI 46 ke suatu daerah, dimana Ross mendapat ungkapan rasa terima kasih dari para pengusaha dan pengrajin kecil atas tulisan-tulisannya yang telah berhasil mendongkrak omset penjualan mereka.
Ross termasuk wartawan yang secara tegas menolak “amplop’, dalam semua tugas peliputannya ataupun dalam posisinya sebagai wartawan.
Dengan sikapnya itu dia merasakan adanya respek masyarakat terhadap dirinya. Terlebih lagi, dia tidak ada beban dalam menulis, mengulas dan mengritik.
Menurutya, orang yang berani, bebas, kuat, dan berkehormatan diri hanyalah mereka yang hidupnya lurus, jujur, dan bersih.
*
Dalam kondisi bisnis yang masih saja gagal , tiba -tiba dia mendapat tilpon dari sekretaris seorang direksi BNI 46. “Bapak mau ketemu ibu.”
Sudah lama dia tidak pernah ke kantor bank yang terbesar di Indonesia waktu itu. BNI 46 Pusat saat itu berlokasi di daerah Kota. Ada apa?
Setelah saling menanyakan keadaan masing –masing karena sudah lama lepas kontak, tiba-tiba sang pak direksi mengatakan,” Apa yang bisa saya bantu ibu?” Sejenak dia terkesima.
Lalu dia bertanya balik,” Bapak mau bantu saya?” Sang direksi mengangguk dalam-dalam. “Kalau begitu, berilah saya kerja, pak” sambut Ross.”Bantulah kami, bu,” sambung sang direksi yang santun itu. Wah.
Rupanya Ross diundang khusus untuk ditawarkan menangani pembuatan iklan promosi ulang tahun BNI 46 yang akan dimuat disemua media cetak seluruh Indonesia. Caranya? Konsepnya ? Terserah Ross.
” Kami percaya ibu mampu membuatnya,” kata sang direksi. Waduh.
Bahkan pada saat itu juga padanya ditawarkan untuk membuat beberapa macam alat promosi.
Selain sudah memiliki ijin perusahaan yang komplit, Ross belum memiliki apa-apa. Maksudnya, perabotan kantor pun belum punya. Tapi bukankah yang akan bekerja adalah dia?
Putar otak, tanpa tanya sana sini, akhirnya dia bikin dalam bentuk konsep ‘pariwara’. Untuk koran berbahasa Inggris dia gunakan tenaga kedutaan untuk menerjemahkannya.
Iklan promosi itu dibuatnya dalam bentuk artikel feature, tanpa foto, untuk separuh halaman koran.Suatu konsep iklan yang tidak lumrah dibuat oleh biro iklan masa itu.
Siang malam dia bekerja menyusun naskah sampai sering tertidur diatas mesin tik. Tenaga kerjanya? Hanya dirinya, dibantu suaminya yang seorang grafis designer dan ahli tata letak yang juga sangat paham masalah percetakan, plus seorang tenaga serabutan.
*
Jangan takut melakukan sesuatu yang baru yang belum lazim dilakukan orang. Karena sesungguhnya tak ada yang benar-benar baru. Yang ada, hanyalah kreativitas dan inovasi serta keberanian dalam memutuskan. (Ross T Nugroho kepada anaknya)
*
Tidak lama setelah itu Ross tiba-tiba mendapat tilpon dari sebuah bank pemerintah besar yang lain waktu itu, BDN. Suatu bank yang belum pernah dikunjunginya. Tak seorangpun yang pernah dia kenal disana. Ada apa?
Setibanya di biro direksi, langsung pimpinannya berkata, “ Bikinkan kami seperti yang ini,” sambil menunjuk iklan pariwara BNI 46 buatan Ross. Masih ada lagi yang lain, “Beri kami saran, apa barang promosi yang tepat ,yang paling berkesan untuk dijadikan hadiah ulang tahun bank kami”.
Itulah kali pertama dalam hidupnya Ross mengadakan presentasi bisnis, lagipula dalam keadaan tiba-tiba dan mendadak, tanpa persiapan khusus . Dan … berhasil.
“Jiwailah setiap apa yang kita sentuh. Kalau kita sudah menjiwai pekerjaan kita, dan kita tidak menyimpan keculasan, maka untuk tampil secara mendadak pun tidak masalah. Kalaupun Anda grogi, tetapi kejujuran Anda yang akan sangat dihargai, dan itu yang dinilai mereka,” kata Ross.
Katanya lagi, “ Bila kita menguasai dan menyintai pekerjaan kita , maka kita akan melakukannya dengan senang hati, sehingga kita tidak mudah dilanda stress . Paling-paling keletihan fisik”.
“Apabila kita bekerja hanya semata-mata demi uang, maka hal yang pasti akan kita temui adalah : ketidak bahagiaan. Tidak mustahil juga : kehancuran dan kenistaan,” ujar Ross.
*
Sebagai biro iklan dadakan, harga penawaran Ross merupakan harga asli media yang memuatnya. Ross sama sekali tidak mengambil keuntungan sepeserpun dari bank yang mengorder iklan itu. Ross hanya mengambil komisi yang diberikan oleh media cetak yang memuat iklan itu. “Saya harus tahu diri”, kata Ross.” Sudah bersyukur ditahun l980 an sudah mendapat kepercayaan order ratusan juta dari masing-masing instansi terbesar di Indonesia dimasa itu,” kata Ross.
Tetapi setelah itu dia tidak mendapat order lagi, karena konon banknya ‘diprotes’ oleh (organisasi) para biro iklan yang mapan.
Padahal setelah itu dia masih sempat mendapatkan order dari beberapa perusahaan produk.
Ada satu hal yang dikenang Ross ketika bekerja untuk order BNI 46 dan BDN saat itu. “Tidak seorangpun dari semua mereka disitu yang “meminta” apapun kepada saya. Bahkan ketika saya mengundang mereka makan, setelah semua pekerjaan usai, mereka menolak dengan santun. Luar biasa,” kenangnya.
(Hal ini berbeda dengan pengalamannya bekerja sama dengan suatu instansi pemerintah lainnya).
*
Janji Kepada Tuhan
*
Sekarang uang sudah ditangan. Lantas apa? Dia mestinya sudah pindah ke rumah mewah di daerah paling elit dan mobil paling luks saat itu.
Tapi tiba-tiba dia teringat akan ‘janjinya’ kepada Tuhan.
Rupanya Ross pernah mengatakan seperti ini, “ Ya Allah, apabila Engkau berikan hamba uang yang banyak, akan hamba manfaatkan untuk orang banyak. Saya ingin mempekerjakan orang banyak.”
Mungkin saja dia akan mengecewakan anak-anaknya. Tapi janji adalah hutang yang harus dibayar. Apalagi kepada sang Maha Pemilik Rizki.
*
Jadilah manusia yang takut dan menyintai Tuhan diatas segalanya. Maka kau akan menjadi manusia yang memiliki hati nurani, yang selalu berada dalam penjagaanNya (RossTN kepada anaknya)
*
Maka dicarilah bidang pekerjaan yang padat karya. Pilihan jatuh pada usaha pakaian.
Diawali dengan pakaian khusus fashion yang membawa karya-karyanya di Departemen Store Sarinah bersama desainer terkemuka lainnya. Mereka menjadi desainer pionir yang memajang karyanya di departemen store di Indonesia.
*
Gagasan tentang fashion designer Indonesia masuk departemen store merupakan hasil saran Ross kepada kepala Sarinah waktu itu, bapak Ansar Sudirman (alm), pada saat kebetulan mereka berdua minum kopi pagi ketika rombongan bersama BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional) itu, transit di lapangan terbang Narita,Tokyo, untuk menuju New York.
Karena Ross sudah pernah keliling Eropa sebelumnya, maka apa yang dilihatnya di pelbagai departemen store di Paris dan London disarankan kepada bos Sarinah itu.
Lalu diterapkanlah oleh Sarinah. Itulah awalnya di Indonesia yang menempatkan karya fashion designer Indonesia di departemen store.
Melalui karya pakaian fashionnya dia juga pernah menerima award dari BID Amerika Serikat (Business Initiative Direction) dalam bidang desain, karena dinilai mengangkat pakaian fashion yang terbuat dari bahan tenunan ikat dan lurik ke pameran-pameran internasional – yang dibiayainya sendiri- bersama delegasi BPEN.
*
Kesalahan Fatal
*
Setelah berhasil dengan pakaian fashion, dengan pelbagai fashion show di dalam dan luar negeri, lalu Ross membuat ’kesalahan”.
Dia memasuki ruang yang tidak dia kenali sebelumnya yaitu dunia mass production. Alasannya sederhana saja, karena mass production akan menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi. Usaha ini yang membawa Ross dibantu suaminya menjadi eksportir dalam peti kemas.
Dengan demikian, ‘janjinya’ kepada sang Maha Pemberi Rezeki bisa lebih dipenuhinya.
*
Tugas manusia adalah bekerja keras. Hasil akhirnya adalah tugas dan urusan Tuhan.(RossTN)
*
Setelah janjinya dipenuhi, usaha sudah berjalan baik, singkat kata, usahanya tiba-tiba hancur lebur. Ditipu. Bukan oleh buyer.Tapi oleh orang Indonesia yang ternyata tidak pernah tertarik dalam usaha kecil padat karya. Melainkan hanya karena waktu itu “usaha padat karya’ dianggap sedang trend maka, pengusaha besar itu menawarkan diri bergabung. Ross mengira dia bermaksud baik untuk membantu meluaskan usahanya. Tetapi justru hanya ’mengambil’ dari dia. Mengambil semuanya.
Semua pencairan LC milik Ross jatuh ke dia.
Dan semua itu adalah akibat dari keluguan dan kebiasaannya sangat mempercayai orang.
Sudah bodoh, celaka pula.
*
Hati-hati. Bila Tuhan mau mengambilnya, bisa jauh lebih banyak dari apa yang pernah diberikanNya. (Ross TN kepada anaknya)
*
Seorang Dirut bank terbesar pernah menyarankan Ross untuk tidak masuk ke dalam dunia ekspor tekstil dan garment. Menurutnya, itu adalah dunia bisnis yang keras dan rumit, terutama bagi pemula yang inosen.
Beliau juga mengingatkan agar jangan sampai dia bermitra dengan orang yang jauh lebih berduit.“Dik Ross akan dimakan oleh mereka. Apalagi dik Ross orangnya polos.”
Tapi waktu itu keadaan sudah terlanjur dijalaninya….
Beliau lah pula adalah sang Dirut yang sibuk menawarkan kredit pada Ross.
Hanya karena ‘tidak enak’, akhirnya Ross mengambil kredit dalam jumlah seadanya.
Belum setahun dia sudah membayarnya lunas.
Ross dipanggil. Dia ditanyakan oleh pihak bank cabang mengapa sudah melunasi kredit sebelum jatuh tempo.
Rupanya dimasa itu perusahaan Ross merupakan salah satu nasabah andalan bagi cabang baru dari bank tersebut.
Apa jawab Ross? “Saya tidak bisa tidur. Saya takut berhutang .Saya tidak biasa berhutang,” jawab Ross.
Pihak bank hanya bisa geleng kepala. Tak habis mengerti ada pengusaha yang takut dipinjami.
“Seperti halnya dengan orang tua saya, maka saya berupaya dan bertekad tidak mau meninggalkan hutang kepada anak-anak saya,” tegas Ross.
*
Tidak Ada Yang Tersia-sia
*
Ross tidak mau membahasnya lebih jauh pada musibah yang sudah terjadi. Khususnya atas kebangkrutan usahanya karena ditipu.
Yang paling utama dia telah memenuhi janjinya kepada Yang Maha Kuasa. Dia sudah sempat memberi nafkah dan makan kepada banyak sekali orang.
Sekarang, Allah telah menentukan bahwa langkahnya hanya sampai disitu saja. Jadi tak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang tersia-sia.
Selama menjadi pengusaha garment, khususnya dari bahan Tenunan Ikat, Ross juga merasa sangat berbahagia karena bisa membantu serta mengangkat perekonomian dan pemasaran dari para pengrajin Tenun Ikat baik di Jepara maupun Jawa Barat. Sehingga ada yang memperoleh penghargaan Upakarti dari pemerintah.
Suatu hal yang tak ternilai bagi suatu upaya dan manfaat bagi sesama.
*
Agar kita tetap berdamai dengan hati kita dan Tuhan, pasrahkan semua hasil akhir pada keputusan Tuhan. (Ross TN).
*
Sebagaimana manusia, dia sempat terguncang. Masalahnya, bagaimana dengan karyawannya? Untunglah dia dan perusahaan pribadinya itu tidak mempunyai hutang apapun. Maka dijuallah sebagian barang-barang miliknya untuk membayar karyawannya.
Dia sempat hanyut beberapa bulan, tapi digunakan untuk melakukan introspeksi diri.
Ternyata sebagai umat Allah dia telah banyak membuat kelalaian dalam beribadah.
Dia langsung bangkit. Tak ada yang perlu disesalkan.
Janji kepada Allah sudah dipenuhi. Mission accomplished.
*
Justru di masa-masa ‘sepi’ dan tenang, manusia bisa mendengar bisikan suara nuraninya lebih lantang (Ross T Nugroho).
*
“Kalau orang umumnya menjadi stress berat ketika ditipu sampai bangkrut habis, maka saya malah bersyukur,” kata Ross. ” Karena bila tanpa ‘teguran’ tersebut, saya mungkin menjadi umat Allah yang lalai.
*
Baginya, kerugian yang sesungguhnya adalah apabila kita sampai ditinggalkan Tuhan. Dikala tak bisa lagi melihat kebenaran. Dikala merenggut dan memakan hak orang dengan lahapnya. Dikala berbuat nista dengan rasa bangga. Dikala mata tak lagi melihat dan telinga tak lagi mendengarkan. Dikala rasa malu tak dipunyai lagi. Dikala aib menjadi kebanggaan. Ketika hati nurani tak lagi berfungsi.
Kerugian material yang memang tidak kecil itu, belum lagi kerugian moril, mengingat usahanya dimulai dari bawah sekali, serta rencana- rencana yang luluh lantak itu, justru menjadi blessings in disguise.
Dia sangat bersyukur tetap memiliki utuh keluarganya, khususnya anak-anaknya yang sedang tumbuh. Karena sesungguhnya anak-anak adalah harta yang tak ternilaikan yang merupakan amanah utama dari Allah.
Dan terlebih lagi, dia dibuat lebih dekat dengan Allah SWT. “Saya sangat mensyukurinya,” ujarnya berkali-kali.
*
Untuk didekatkan dengan Tuhan, adakalanya kita harus melalui pelbagai cobaan dan ujian. Bahkan musibah. Tapi jangan menunggu itu terjadi. (RossT Nugroho kepada anaknya).
*
Akhirnya dia menganggap kerugian material itu tidak pernah ada, melainkan hanyalah ‘pengalaman buruk’ belaka, yang harus dia lalui. Dan untuk diwaspadai..
“Tidak usah disesali. Untung masih diberi waktu untuk memperbaiki diri.”
Selama menjalankan usahanya, Ross dan keluarganya tetap hidup sederhana seperti biasanya. Tetapi tidak dapat tidak, kebangkrutan usahanya itu membawa dampak dalam ekonomi keluarganya. Dikala anak-anaknya sedang tuimbuh remaja dan meningkatnya kebutuhan sekolahnya.
“Tapi Tuhan selalu menyayangi kami,” kenang Ross. “Kami memang tidak pernah menjadi konglomerat. Tetapi kami tidak pernah dijadikan sampai hidup melarat. Apalagi sampai harus meminta-minta dan berhutang budi sana sini. Tuhan selalu menjaga kehormatan keluarga saya. Saya sangat bersyukur,” ujarnya lirih.
*
Sesibuk apapun kau, selalu luangkan waktumu untuk mendengarkan bisikan suara hati nuranimu (RossTN kepada anaknya).
*
Promotor
*
Menurutnya, dalam hidup ini, kita lebih banyak menemukan hal-hal yang justru tidak kita inginkan dan yang tidak kita rencanakan , ketimbang pada hal-hal yang kita dambakan.
Hidup ini penuh dengan episode yang harus kita lalui. Yang suka maupun yang duka. Oleh karena itu jalani saja dengan ikhlas dan tawakkal. Dan teruslah berjuang. Jangan lagi menengok ke belakang . Kecuali untuk dijadikan pelajaran.
*
Tak ada badai yang tak akan berlalu.
*
Kemudian, pribadi yang senang dengan seni ini, mengisi waktunya dengan melukis, yang selanjutnya membawanya menjadi art dealer. Tepatnya, dealer lukisan kelas maestro Indonesia.
Kemudian dia menjadi ‘talent scout” (pencari bibit baru) pelukis-pelukis muda sampai ke pedesaan. Hidupnya bergairah lagi.
Sekonyong-konyong suatu hari datang beberapa seniman (senior) daerah , meminta bantuannya untuk memamerkan karya-karya lukis kelompok mereka. Hah? Jadi promotor?
Sejak itu Ross dikenal kalangan pelukis selain sebagai dealer lukisan juga sebagai promotor yang sukses dalam setiap pameran yang ditanganinya bersama suami dan dua remaja putranya.
Dalam masa-masa inilah Ross mendapat kesempatan memenuhi Rukun Islam kelima ke Tanah Suci. Alhamdullillah.
*
Dia telah memamerkan karya para pelukis dari Galeri Nasional sampai ke hotel bintang lima dan mall mewah. Sampai ke negeri Belanda.
Kegiatan Ross selalu hanya dibantu oleh suami dan dua orang anaknya. Tetapi adakalanya dia mengambil para mahasiswi pilihan sebagai tenaga “sales” nya Sekalian memberi mereka ‘pengalaman kerja’ sebagai bagian dari biodata awal mereka.
Dia yang memprakarsai pembentukan “Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI)” dan menjadi Ketua Umumnya,untuk mengangkat pelukis berpotensi tapi tidak mendapat kesempatan tampil.
Dia mengangkat pelukis jalanan sampai ke mall-mal yang mewah.
Bukan saja membiayai sendiri pameran-pameran tetapi juga menjadi ‘sales girl’ dari para pelukisnya dan memberi rasa percaya diri pada senimannya.
Suatu hari dia dipanggil pihak Departemen Pariwisata Seni dan Budaya RI, (yang baru berganti nama dari Departemen Pariwisata dan Postel), untuk menyelenggarakan pameran-pameran lukisan atas nama instansi mereka. Baik tingkat Departemen maupun Kanwil DKI.
Dia sering tampil sebagai pembicara dalam pelbagai sarasehan dan seminar baik tingkat nasional maupun bertaraf internasional.
Sampai sekarang, dia yang juga melukis, masih menjadi dealer lukisan.
Bila menggeluti sesuatu kegiatan maka, Ross tidak mau setengah- setengah. Maka untuk menunjang wawasannya sebagai promotor dan dealer lukisan, pada masa-masa itu temannya sering mengajaknya ke Singapora untuk mengikuti langsung jalannya pelelangan lukisan yang diselenggarakan oleh biro lelang Christie dan Southeby.
Pihak Kedutaan Besar Autralia untuk Indonesia pernah dua kali meminta bantuan jasa Ross untuk menyelenggarakan pameran lukisan dari Australia; karya pelukis Aborigin lalu lukisan modern; milik gallery-gallery di Sidney. Semua sukses.
(Dalam salah satu buku katalog pamerannya terdapat dua kata sambutan. Dari Perdana Menteri Keating dan Ross T Nugroho).
Jennifer Lindsay yang pernah menjadi Atase Kebudayaan di Kedutaan Australia, ketika dia sudah bekerja untuk suatu foundation pernah mengatakan padanya, “Ross, you are a pioneer”. Sampai sekarang dia tak pernah paham apa maksud Jennifer tesebut.
*
Ketika sedang asyik sebagai promotor lukisan, suatu waktu dia bertemu dengan rekan lama seorang wartawati senior RRI yang selalu sekamar dengannya bila mereka bertugas ke daerah. Temannya itu mengetahui bahwa Ross yang juga senang dengan masalah psikologi itu sering membantu menjodohkan para single, dan membantu pelbagai problema keluarga.
Dalam pertemuan dari kedua teman lama itu, tiba-tiba dia menawarkan Ross untuk turut mengisi acara analekta untuk “Konsutasi masalah perkawinan dan keluarga” di RRI Pusat, siaran Nasional.
Dan begitulah, Ross pernah mengisi acara interaktif tersebut selama tujuh tahun.
*
Sekarang
*
Kini Ross adalah juga jewelry designer sekaligus sebagai artisannya yang membuat pelbagai perhiasan terutama dari batu alam yang “one of a kind” (dibuat hanya satu -satunya). Dibantu seorang putranya, Har, yang arsitek dan penggemar uang kuno dan benda kuno.
Bila Ross menekuni karya-karya eksklusif, dibuat hanya satu-satunya. adalah karena memang pada dasarnya dia tidak tertarik dengan mass production.
“Saya selalu bekerja dengan hati dan jiwa saya dengan penuh kasih sayang pada setiap karya saya. Dan itu lebih bisa dituangkan pada karya yang eksklusif,” tandasnya.
*
Sekarang dia juga sudah mempersiapkan naskah-naskah untuk diterbitkan sebagai buku karya tulisannya.
Ada buku “kiat” yang berdasarkan observasinya selama puluhan tahun.
Ada pula buku tentang “sejarah politik” yang berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh pelaku sejarah bangsa.
Direncanakan hendak diterbitkannya baik secara EBook maupun dalam bentuk yang umum.
*
*Kunjungi juga blog dan web Ross yang lain :
http://chantikjewels.wordpress.com
http: //rossatelier.wordpress.com
http://jobnkarir.wordpress.com
juga di Face Book.
*
Walaupun tidak segencar dulu, tapi dia masih sebagai art dealer. Untuk itulah dia membangun gallery di kawasannya. Dia juga masih membuat simple fashion , melukis, dan menangani kerajinan tangan (arts and crafts).
Bersama putranya, dia kini menjalankan usaha home based business.
*
Semua yang terbang tinggi, bila ingin selamat, harus turun .
*
Sekarang , waktunya banyak dihabiskannya di depan komputer. “Saya tak bisa membayangkan dengan sudah usainya sekian banyak kegiatan luar rumah selama berpuluhan tahun, lantas saya tidak memilki kegiatan yang rutin berkesinambungan. Untunglah saya dikenalkan dengan komputer oleh putra saya. Dia pula yang mengajarkan saya surfing dan browsing,” kata Ross dengan rasa syukurnya.
Sebagai generasi ‘gaptek’, Ross diajarkan putranya menggunakan komputer dan internet. Walaupun tertatih-tatih, dia merasa sangat beruntung bisa mengenali internet. Dia seakan menemukan ‘universitas ‘ dan lingkup baru yang sangat bermanfaat dan penuh warna.
Kini, komputer dan internet menjadi bagian dari hidupnya.
Orang seharusnya tahu kapan dia harus berhenti.
Dia tak bisa membayangkan bila di masa seniornya ini dia tidak mengenal komputer dan internet. Dimana banyak waktunya yang tersedia karena tidak lagi mengurus anak bersekolah. Sedangkan semangat belajar dan berkegiatan tetap tinggi, dengan ide–ide yang tetap antri dikepalanya , serta hati yang tetap terus ingin berbagi.
Baginya, bekerja dan berkegiatan di usia sekarang adalah juga sebagai rasa syukurnya atas kesehatan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Dia selalu mengatakan kepada anak- anaknya, “Jaga kesehatanmu. Tanpa kesehatan yang baik kau tidak bisa bekerja, tidak bisa berbakti, bahkan beribadahpun akan terganggu”.
Bila kita masih diberi kesehatan, berarti kita masih diharapkan untuk menjalankan tugas hidup ini secara baik dan berguna.
Salah satu cara untuk mensyukuri kesehatan dan hidup yang diberi Tuhan adalah dengan berbuat banyak amal kebajikan, meningkatkan iman dan takwa, serta bekerja, berbakti dan berbagi. (RossTN)
*
Kalau dia seakan-akan bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam rentang periode waktu yang bersamaan, dan seakan tak pernah merasa kedodoran dengan masalah waktu, serta menjalankannya tanpa harus mengorbankan yang lain, maka menurut Ross sesungguhnya itu bukanlah sesuatu yang sangat istimewa.
Menurutnya, bila memang mau, semua orang bisa melakukannya.
“Disiplin, arif mengatur waktu, mendahulukan yang penting, jangan menunda-nunda, dan selalu berupaya keras untuk tidak mengecewakan orang yang mempercayai kita.”
Bagi Ross, masalah intergritas, komitmen; amanah, disiplin diri, ketaatan untuk menepati janji dan menjadi orang yang terpercaya, sangat penting dan mendasar bagi mental and character building.(kunjungi juga Blog Life and Us, Blog Parenting dan Ross Blog )
*
Tidak ada alat ukur yang tepat untuk menakar kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Yang penting Anda merasa bahagia selama menjalankannya dan ada lingkungan yang turut merasakan manfaat dari keberadaan Anda itu.(RossT Nugroho)
*
BERBAGI DENGAN SESAMA
*
Berbagilah dikala Anda masih mampu dan masih bisa untuk berbagi. Jangan sampai suatu saat Anda menyesali diri karena tidak pernah berbagi (Ross TN)
*
-
Ross kini tinggal didaerah ‘perkampungan’ yang hijau, jauh dari hiruk pikuk, di bagian selatan Jakarta, diantara pepohonan yang rindang dan tenang, bersama suaminya yang dilanda stroke.
Dia masih memasak, membuat kue dan penganan (untuk suami, anak, menantu, dan cucu, maupun anak –anak asuhannya), menjahit gorden jendela dan taplak meja, menyapu, menyiram tanaman, belanja bulanan, mencari bahan baku usahanya, bertemu teman dan relasi, membaca, serta tetap mengikuti perkembangan pembangunan dan politik melalui media massa dan setia mengikuti semua pemberitaan TV dan tetap meng- up date wawasannya.
“Jiwa kewartawanan saya yang peduli pada sekitar, tetap melekat”, ujar Ross.
Menurutnya, wartawan sejati tak pernah mati.
Tetap saja peka dan kritis pada lingkungan dan masyarakat.Pada bangsa dan negara.
*
Setelah subuh, dia sudah berada di depan komputer .
Bila keadaan dan tugasnya mengharuskan, atau idenya sedang menggebu maka, dia bisa berada di depan komputer sampai belasan jam sehari. Jari-jarinya yang sudah terasa kaku, sering dikalahkan oleh idenya yang masih saja mengalir. Alhamdulillah.
*
Bukan berapa banyak umurmu, bukan berapa lama kau telah bekerja, bukan berapa banyak harta bendamu, bukan setinggi apa sekolahmu, bukan sebesar apa kekuasaanmu. Tetapi kebaikan dan manfaat apa saja yang telah kau sumbangkan dalam hidup ini. (Ross T Nugroho kepada anaknya)
*
*Kunjungi juga blog Ross yang lain : jobnkarir.wordpress.com
*
Setelah pindah ke tempatnya yang sekarang, Ross kini memiliki sebuah taman yang sangat kecil, namanya, “Taman Hati”, sebagai kepeduliannya pada anak-anak dari kaum ‘grass root” yang berada di lingkungannya.
Dia ingin sekali lebih banyak anak yang memperoleh kesempatan untuk mencerdaskan dirinya.
Dia percaya sangat banyak anak di akar rumput, yang sangat membutuhkan pencerdasan dan pendidikan budi pekerti, serta perhatian dan kasih sayang tulus ikhlas, secara langsung.
“Memang tidak mudah menghadapi kalangan ini. Yang banyak dihalangi oleh masalah pola pikir, kebiasaan, beban pskologis mereka sendiri”,katanya.
Namun bagaimanapun, mereka adalah juga generasi masa depan bangsa ini…
Mereka bisa menjadi bunga bangsa ataupun beban bangsa dan negara.
*
Melalui RossWorld.wordpress.com dan jobnkarir.wordpress.com yang ditanganinya sendiri, dia sangat berharap bersama-sama Anda dapat membantu para angkatan pekerja baru serta mereka yang potensial tetapi masih saja menganggur ataupun yang sudah bekerja tetapi ingin meraih jenjang karir yang lebih menjanjikan lagi .
Dengan latar belakang sebagai fashion designer dengan pengalaman internasional, Ross ingin melakukan “make over” (gratis) pada mereka yang santun dan berpotensi tetapi tidak mampu secara material dan finansial itu, dengan membantu cara penampilan dan tata busana mereka, agar bisa tampil secara pantas dan penuh percaya diri dalam wawancara tatap muka, atau walk in interview.
*
Kebaikan yang Anda lakukan hari ini mungkin akan cepat dilupakan. Tetapi dampak dari kebaikan yang telah Anda lakukan itu tak akan pernah terhapuskan.
*
Bukan Tingginya Puncak
*
Sebagai manusia yang berupaya untuk tetap meng- up date wawasannya, agar tidak kikuk didalam zamannya, hari-harinya masih terisi dengan pelbagai kegiatan.
Dia tetap bersemangat menjalani hidup ini dan selalu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan kepadanya termasuk kesehatannya yang dianggapnya sebagai anugerah Illahi.
*
Bukan seberapa tinggi puncak yang telah Anda capai, tetapi seberapa banyak yang sudah Anda berhasil mengangkatnya ke atas, bersama Anda.
*
Ross sangat menyintai keluarganya. Dia sangat mengasihi suami, anak- anaknya, menantu, dan cucu- cucunya.
Hatinya selalu terikat dengan keempat putranya.
Mereka adalah belahan jiwanya.
*
Rumah dan keluarga adalah tempat sebaik-baiknya,seindah-indahnya dan setulus-tulusnya kita kembali. (RossTN).
*
Ketika dia sedang segar-segarnya, sepulangnya dari tugas perjalanan jurnalistik ke Eropa Timur dan Russia di era USSR yang mencekam, Ross mendapat tawaran dari pihak Departemen Luar Negeri untuk mengadakan “diplomatic trip” keliling dunia.
Dia sangat tertarik, walaupun detail tugasnya belum terang benderang .
Dia tidak langsung menolak atau menerimanya, ketika mengetahui bahwa diperkirakan dia hanya boleh pulang ke tanah air setahun sekali. Sementara putra bungsunya masih balita.
“Seumur hidup , sepertinya ini adalah tugas yang saya impi-impikan,” kenang Ross. “Inilah moment terbesar dalam karir saya”.
Tetapi begitu hal tersebut seakan mempertentangkan dia dengan kepentingan keluarganya maka, dia langsung memilih untuk berada bersama keluarganya.
Baginya, karir menjadi bukanlah apa-apa, bila dia harus terpisah dari keluarganya; anak-anak dan suami.
*
Keluarga lebih penting. Sedangkan karier dan lainnya sebenarnya hanyalah bonus saja. Kalau kita hanya mengandalkan karier, suatu saat kita bisa jatuh dan tak akan punya apa-apa lagi di kemudian hari. (Aktris Chaterine Zeta-Jones, istri aktor Michael Douglas)
*
Hari – harinya kini berjalan penuh rasa syukur pada Illahi. Alhamdulillah.
“Bersyukurlah bila kita masih diberi kesempatan untuk bisa terus berbagi dan membayar ‘hutang-hutang’ hidup dan kehidupan kita,” ujarnya lirih.
“Manusia adalah mahluk yang penuh lilitan hutang hidup dan kehidupan. Berbuatlah yang terbaik sebelum denyut jantungmu berhenti mendadak,” tandasnya.
*
Setiap menit adalah “menit terakhir” kita. Jangan menunggu datangnya “menit terakhir”. Itu terjadi “setiap menit”, setiap hari. (Alber Camus).
*
Banyak Terimakasih atas Kunjungan dan Waktu Anda.
Terima Kasih atas Perhatian, Kepedulian, Persahabatan, dan Partisipasi Anda.
*

Ross sangat berbahagia bila mendengar dari Anda.
Partisipasi Anda akan meningkatkan semangat kami.
*
RossWorld.wordpress.com by Ross T Nugroho
South of Jakarta, Indonesia.
SMS only : 0818.323834 ; 021.966 846 51
Email Me: rossworld9 @ gmail.com
-
Silahkan kunjungi juga website dan blog dari Ross:
www.rossatelier.com
http://chantikjewels.wordpress.com
http: //rossatelier.wordpress.com
http://jobnkarir.wordpress.com
juga di Face Book
*
Kindly Send This Web Blog To Your Friend
*
Bila Anda menyenangi web blog ini beritahukanlah kepada Teman-Teman Anda.
Bila Anda ingin memberi kritik, saran, input, opini, ke email : RossWorld 9@gmail.com
*
-
Lebih jauh Tentang “Motivasi,Tips Mencari-Melamar Kerja & Kiat Entrepreneur / Wiraswasta” ?
Silahkan Kunjungi blog kami,
jobnkarir.wordpress.com
2009-2010@ All Right Reserved / RossWorld.wordpress.com